Di setiap madrasah, dengan adanya peningkatan kesejahteraan dari pemerintah, ternyata tidak serta merta dapat meningkat pula kualitas pembelajaran dan kualitas output dari madrasah tersebut.
Sebagai contoh sebuah madrasah di kecamatan Bae, dengan siswa yang berjumlah keseluruhan 123 siswa dengan enam kelas, dengan empat belas guru dan telah sepuluh guru tersertifikasi, ternyata kualitas outputnya masih biasa-biasa saja (kalau tidak boleh dikatakan menurun). karena dari hasil UN nya ternyata mempunyai jumlah nilai terendah di banding dengan madrasah lain se-Kecamatan Bae. hal tersebut disebabkan banyak faktor yang antara lain:
1. situasi madrasah yang tidak kondusif
manajemen madrasah yang terkesan ada rasa iri dengan guru yang lain yang mempunyai penghasilan lebih tinggi, atau mempunyai pekerjaan lain di luar madrasah, membuat sebuah upaya adanya saling menjatuhkan dari satu pihak yang iri tersebut, sehingga selalu mengucapkan statusnya pada guru yang bersangkutan, sbagai contoh adalah : wis sertifikasi kok..........pegawai negeri kok......dlll
hal tersebut kemudian memicu tidak adanya kekompakan dari antar guru yang berakibat pada hasil pembelajaran dan berakibat pula pada output.
2. kepemimpinan kepala madrasah yang otoriter
kepemimpinan kepala madrasah yang otoriter, sehingga tidak pernah mau menerima masukan dari orang lain, bahkan dari pengurus sekalipun. ketika harus menentukan sesuai dengan keinginannya, maka harus tetap dilaksanakan.
sebagai contoh dengan ucapan: kalau ada guru yang lain tidak masuk mengajar, maka harus ijin tertulis kepada kepala madrasah(hal itu sudah seharusnya), tapi kalau sedang tidak masuk ke madrasah atau sedang keluar madrasah, maka guru lain tidak boleh ngurusi(hal itu diucapkan dalam rapat).
sebagai contoh lagi ada seorang guru yang menjadi korban dari otoriternya kepala tersebut, yakni karena ada seorang guru yang juga menjadi perangkat desa, tiba-tiba, ketika tahun ajaran baru, tanpa ada pemberitahuan dan pembicaraan terlebih dahulu, tanpa ada salah apapun terhadap madrasah tidak deberi jam mengajar. (ada indikasi, karena kepala juga mencoba melamar menjadi perangkat namun di ganjal oleh panitia dengan ucapan kamu milih perangkat apa kepala? kalau maju perangkat, maka harus melepaskan dari kepala)
3. kepemimpinan yang tidak layak untuk memimpin madrasah
kepemimpinan yang hanya memikirkan perutnya sendiri, maka tidak layak untuk memimpin madrasah. di samping itu, apabila ada waktu luang, kepala madrasah tidak mengerjakan tugas tugas administrasi sekolah, melainkan menjadi tukang kebun, alias membersihkan lapangan dan WC. hal tersebut dilakukan karena kemampuan administrasi kepala madrasah Nol, sehingga hanya bisa perintah.
No comments:
Post a Comment